Selasa, 27 Januari 2015

Pembahasan Sejarah SIMAK UI 2009 Nomor 21

Pertanyaan :
21. Adanya interaksi antara kebudayaan Hindu dan kebudayaan Islam di Indonesia jelas terlihat dari …
(A) letak masjid yang berdekatan dengan alunalun
(B) atap masjid yang berbentuk meru
(C) upacara selamatan kematian seseorang
(D) membunyikan bedug sebagai petanda waktu sholat
(E) semuanya benar
Jawaban : E 

Pembahasan : 

Interaksi antara kebudayaan Hindu dan kebudayaan Islam yang dapat menghasilkan akulturasi dapat berwujud antara lain : 
Letak masjid yang berdekatan dengan alun-alun 
Hal ini terkait sistem macapat yaitu suatu tata cara yang didasarkan pada jumlah empat dan pusat pemerintah terletak di tengah-tengah wilayah yang dikuasainya. Pada pusat pemerintahan terdapat tanah lapang (alun-alun) dan di empat penjuru terdapat bangunan-bangunan yang penting seperti keraton, tempat pemujaan (Masjid/kuil), pasar, penjara. Susunan seperti itu masih banyak ditemukan pada kota-kota lama yang sebelumnya pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Hindu dan Islam. 

Atap masjid yang berbentuk meru 
Meru merupakan salah satu bangunan suci umat Hindu di Bali, yang sangat agung, megah dan monumental, sarat dengan kandungan makna simbolis dan kekuatan religius. Meru dijumpai pada pura-pura besar di Bali dengan ciri khasnya adalah atapnya yang bertumpang tinggi. Seiring datangnya agama Islam atap meru diadaptasi pada beberapa bangunan Masjid yang beberapa beratap tumpang/susun satu, tiga bahkan ada yang lima tingkat/susun. 

Upacara selamatan kematian seseorang 
Kegiatan ini sering kita jumpai pada masyarakat Jawa yang sering dikenal dengan nama Tahlilan. Setelah mayat itu dikuburkan, kewajiban keluarga yang ditinggalkan adalah mendoakannya. Tahlilan biasanya dilakukan selama tujuh hari semenjak orang itu meninggal, dilanjutkan pada hari ke-40, ke-100, dan ke-1000. Dalam kegiatan tradisi itu, nilai-nilai agama masuk seperti membaca doa-doa dan ayat-ayat Al-Qur an. 

Membunyikan bedug sebagai pertanda waktu sholat 
Sejatinya dalam Islam pertanda waktu sholat adalah adzan, bukan bedug. Bedug sebenarnya berasal dari India dan Cina. Berdasarkan legenda Cheng Ho dari Cina, ketika ketika Laksamana Cheng Ho datang ke Semarang, mereka disambut baik oleh Raja Jawa pada masa itu. Kemudian, ketika Cheng Ho hendak pergi, dan hendak memberikan hadiah, raja dari Semarang mengatakan bahwa dirinya hanya ingin mendengarkan suara bedug dari masjid. Sejak itulah, bedug kemudian menjadi bagian dari masjid, seperti di negara Cina, Korea dan Jepang, yang memposisikan bedug di kuil-kuil sebagai alat komunikasi ritual keagamaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar